Desa Menari Tanon Sebagai Jembatan Persaudaraan

Desa Menari Tanon Sebagai Jembatan Persaudaraan

Dusun Tanon di Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah sudah moncer dengan sebutan Desa Menari Tanon. Ada gagasan besar yang diinginkan perintisnya, Trisno. Bukan sekadar destinasi wisata tapi juga sebagai jembatan persaudaraan berbasis kemanusiaan.

Sekilas, tak ada yang berbeda saat memasuki wilayah Dusun Tanon. Tempat itu sama dengan suasana desa pada umumnya. Sunyi rindang dipenuhi pepohonan yang menyejukkan mata. Suara khas burung dan serangga hutan tropis masih kerap terdengar.

Namun, Tanon bukan dusun biasa. Daerah yang terletak di lereng Gunung Telomoyo ini sudah bertransformasi lama menjadi salah satu destinasi wisata, yang bukan hanya menjadi rujukan masyarakat lokal, tapi juga internasional. Orang-orang mengenal tempat itu sebagai Desa Menari.

Asal Mula Terbentuknya Desa Menari

Adalah Trisno, pemuda asli desa itu yang berhasil menyulap kampungnya. Sebagai sarjana pertama di desanya, pria kelahiran 12 Oktober 1981 itu, ia punya tanggung jawab moral untuk mengangkat derajat dan perekonomian warga desanya. Lantas dimulailah mimpi besarnya memajukan Desa Ngrawan, khususnya Dusun Tanon pada akhir 2009.

Ide untuk mengembangkan desa wisata memang tidak muncul tiba-tiba. Waktu itu, berangkat dari pengalaman pahit, lantaran mengalami kegagalan saat mencoba mendirikan baitul maal wa tamwil (BMT) atau biasanya dikenal dengan sebutan koperasi syariah pada tahun 2007.

Kang Trisno, sapaan akrabnya, mulai mengevaluasi yang dilakukan. Pria ini berkesimpulan, ada dua penyebab kegagalan. Yakni, pertama, ia terlalu sembrono masuk ke jantung profesi masyarakat. Kedua, cakupan wilayahnya, pada waktu itu di dua kecamatan, dinilai terlalu luas dengan anggota kelompok yang tak banyak.

Pada akhir 2009, Trisno mulai bangkit dan kembali berinisiasi membuat gerakan berbasis ekonomi kerakyatan. Ia melirik potensi yang ada di kampungnya sendiri sebagai bahan dan modal untuk dikembangkan. Mulai dari sisi pendidikan, seni, peternakan, pertanian, dan wisata digarap bersama dengan pemuda, warga hingga tokoh masyarakat setempat.

Trisno terus berbenah dan berfikir bagaimana menciptakan brand supaya Dusun Tanon maupun Desa Ngrawan lebih dikenal oleh masyarakat lebih luas. Tepatnya pada 2012, ia mendekati dan melakukan penjajakan dengan kelompok kesenian tari yang berada di desanya.

Tepatnya, pada Februari 2012, bersama kawannya di kelompok sadar wisata (Pokdarwis), mereka mencetuskan konsep tempat wisatanya dengan nama Desa Menari Tanon.

Konservasi Alam

Sejak pertama kali dibuka pada 2010, pengunjung outbound desa baru berkisar 120 orang. Jumlah itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2015, pengunjung ke desa itu bahkan mencapai 2.071 orang dan terus berkembang seiring makin dikenalnya Desa Menari.

Meski begitu, sebetulnya dalam diri Trisno tak menginginkan wisatawan terus meningkat. Ia membangun tempat itu bukan sebagai desa wisata murni. Sebab ada mimpi besar yang tidak cuma ingin menjadikan Desa Ngrawan maupun Dusun Tanon sebagai jujugan atau tujuan wisatawan.

Meski begitu, sebetulnya dalam diri Trisno tak menginginkan wisatawan terus meningkat. Ia membangun tempat itu bukan sebagai desa wisata murni. Sebab ada mimpi besar yang tidak cuma ingin menjadikan Desa Ngrawan maupun Dusun Tanon sebagai jujugan atau tujuan wisatawan.

Baginya, jika beralih pada konsep desa wisata murni, profesi asli masyarakat desa akan hilang dan beralih ke pariwisata. Di samping itu, lanjut Trisno, pengunjung yang membeludak dikhawatirkan merusak kondisi alam sekitar.

Jembatan Persaudaraan

Satu hal yang belum banyak diketahui banyak orang dari Trisno selain sebagai pegiat pariwisata. Sejak 2012 Trisno ternyata terlibat aktif dalam upaya hubungan kemanusiaan tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Kunjungan wisatan dan kegiatan di Desa Menari menjadi gagasan jembatan persaudaraan lintas iman melalui pendekatan budaya, kearifan lokal dan pemberdayaan.

Saat ini, imbuh Trisno, Desa Menari Tanon menjadi pembelajaran lapangan dari mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), UMS, Unika Semarang dan berbagai kampus swasta berbasis keagaman maupun kampus negeri lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *